Halaman Utama
Buku Tamu
Arsip Berita
Contact
 
 

25

Sep 2010

Mengenang Peristiwa Jatuhnya Pesawat Haji di Colombo (2-Habis)

Selamat dengan Besi Manancap di Pantat
Radar Banjarmasin - Utama

Kisah kecelakaan pesawat Garuda yang membawa rombongan haji asal Kalimantan Selatan di kawasan Colombo, sampai saat ini masih diingat jelas oleh Hj Rusdiana (69) salah satu korban selamat dari kecelakaan yang terjadi pada tanggal 15 Nopember 1978 silam.

“Waktu itu kami berjumlah 5 orang yang terdiri dari suami saya H Masvector (alm), Hj Siti Muslimah (alm), yang selamat sewaktu kejadian berlangsung, sedangkan dua orang meninggal di tempat yakni Hj Masliam dan Dyantra Utoeng,” beber Hj Rusdiana, mengenang kejadian tersebut. “Kami berangkat dari Tumbang Samba, Kalteng, lalu ke Banjarmasin, dan kemudian terbang ke Arab Saudi,” ujarnya.
Sejak berangkat maupun selama menunaikan ibadah haji hingga selesai pihaknya tak mendapatkan firasat apa-apa.
Hanya saja, lanjut Hj Rusdiana, sewaktu pesawat mau membawa rombongan kloter pertama asal Kalsel ini pulang kembali ke tanah air. Ia sempat melihat ada pasangan suami istri yang terlihat aneh mereka tak berpakaian haji seperti rombongan haji Kalsel, keduanya sibuk mencari-cari tempat duduk. “Padahal, kursi sudah terisi penuh,” ungkap Hj Rusdiana.
Setelah itu, lanjutnya, dia pun tak melihat kedua pasangan suami istri berambut putih dan bersih tersebut, sampai kecelakaan berlangsung.
“Sebelum, pesawat mengalami kecelakaan, saya sempat curiga dengan kesibukan para pramugari, yang membersihkan bawaan penumpang, dan meletakkannnya di bawah kursi,” tutur Hj Rusdiana lagi.
Lalu, beberapa saat setelah itu pesawat terbang mendadak turun dari ketinggian semula. Belum sempat berpikir ada apa tiba-tiba pesawat memapas pohon-pohon kelapa dan suasana di dalam pesawat menjadi gelap-gulita, lalu pesawat terjatuh, terbelah menjadi tiga bagian. “Saya, suami, dan saudara-saudara suami duduk di bagian belakangan (ekor) pesawat, tempat di belakang kami duduk bagian patahan pesawat, sehingga saya bersama dengan Hj Muslimah dapat keluar, sedangkan tiga orang lainnya saya tak tahu dimana keberadaannya akibat goncangan keras pesawat termasuk suami saja,” bebernya.
Sewaktu keluar dari badan pesawat, suasana gelap dan hujan, “Saya kemudian melihat ke bagian atas pesawat sudah mulai ada bercak api, dengan sekuat tenaga, saya, dan ipar Hj Muslimah, serta beberapa orang lainnya yang selamat langsung turun dengan meniti batang pohon kelapa yang tumbang dekat patahan ekor pesawat, lalu kami semua berlari kencang beberapa saat kemudian terdengar bunyi ledakkan pesawat,” tutur Hj Rusdiana.
Setelah, berlari cukup jauh mereka pun menemukan perkampungan namanya In Gombo, “Lalu, kami pun ditolong oleh warga sekitar, dan dibawa ke rumah sakit In Gombo, sehari setelah itu kami lantas di bawa ke Colombo Hospital, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Nah, di Colombo Hospital inilah saya kemudian mencari tahu keberadaan suami dan keluarga lainnya, dari pihak petugas dan wartawan setempat saya mendapatkan kabar bahwa suami saya selamat sedangkan Hj Masliam dan H Dyantra Utoeng meninggal dunia,” terang Hj Rusdiana.
Sehari setelah mendapatkan perawatan di Colombo Hospital, Hj Rusdiana meminta untuk diantarkan ke RS In Gombo tempat suaminya mendapatkan perawatan. “Suami sebenarnya tengah sakit, sebelum pesawat berangkat badannya sudah demam,” ucap Hj Rusdiana.
Sewaktu kecelakaan terjadi, lanjut Hj Diana, suaminya menceritakan pada saat pesawat terjatuh posisi suaminya tengah tertelungkup di buritan ekor pesawat, karena suasana gelap dan hujan mau bergerak tak bisa karena pantatnya tertusuk besi pesawat yang patah dia pun hanya bisa pasrah. “Untungnya, bagian buritan pesawat tak ikut meledak, sehingga suami saya pun dapat diselamatkan oleh tim penolong,” pungkasnya. (mey)

 
  • Radar Banjarmasin Epaper
 
 
 
Kaltim Post Group