|
BANJARMASIN – Kabar buruk menghampiri PSSI Kalsel. Komisi Banding (Komding) PSSI Pusat ternyata menganulir tim sepak bola Kalsel untuk lolos ke PON XVIII Riau 2012. Itu seiring keputusan Komding mengabulkan banding PSSI Kaltim yang diajukan pada awal Januari tadi. Majelis sidang Komding menyatakan, Aldair Makatindu dan Rahel Radiansyah masih berstatus amatir. Dengan demikian, tiket PON XVIII kembali menjadi milik Kaltim. “Keputusan ini sudah final dan tidak ada lagi upaya hukum yang bisa ditempuh untuk menggagalkannya,” terang Ketua Komisi Banding Ahmad Riyadh. Keputusan tersebut dihasilkan melalui sidang yang digelar Komding pada Rabu (25/1) lalu sekitar pukul 11.30 WITA. Dalam proses persidangan, Komding mengacu pada tiga aturan hingga memutuskan mengabulkan banding tersebut. Acuan pertama, protes yang dilayangkan PSSI Kalsel dianggap sudah kedaluwarsa. Menurut Riyadh, sesuai regulasi, protes seharusnya diajukan maksimal 1x24 jam setelah pertandingan. “Kalsel mengajukan keberatan kepada Komdis (Komisi Disiplin, Red) enam bulan sesudah pertandingan. Itu sudah dianggap menyalahi aturan,” katanya. Selain itu, Komding menganggap kedua pemain yang dinyatakan ilegal tersebut, belum melalui proses alih status menjadi professional yang dibuktikan dengan sertifikasi. Dan acuan terakhir adalah aturan manual Indonesia Super League (ISL) yang menyebutkan pemain kelompok umur di liga masih dianggap amatir. Acuan terakhir merupakan dasar yang digunakan Pengprov PSSI Kaltim dalam menempuh upaya banding. Ketua PSSI Kaltim Ahmad Amins mengatakan, beban Kaltim kini tengah hilang. Konsentrasi pemain diselaraskan sesuai pola program latihan. “Tak ada lagi masalah menimpa anak-anak. Sekarang mereka cukup konsentrasi latihan. Tujuan kami masih mencanangkan mempertahankan juara tiga,” urainya. Sekadar diketahui, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI sebelumnya mengabulkan protes yang dilayangkan tim sepak bola PON Kalsel yang menuding Kaltim melakukan kecurangan dalam laga kualifikasi zona Kalimantan di Samarinda, Juli tahun lalu. Kaltim dinyatakan bersalah karena di dalam skuadnya terdapat dua pemain yang dianggap berstatus profesional. Aldair Makatindu dan Rahel Rahadiansyah yang diketahui merupakan bagian dari Persisam Putra Samarinda yang berlaga di kompetisi ISL musim 2010-2011. Diterimanya banding PSSI Kaltim tentu sangat mengejutkan bagi PSSI Kalsel. Sebab, awal Januari lalu PSSI Kalsel mendapat info bahwa banding PSSI Kaltim ditolak dan tim sepakbola Kalsel dipastikan lolos ke PON XVIII Riau 2012 mendatang. Bahkan Ketua Umum PSSI Kalsel Hasnuryadi Sulaiman sempat mengatakan bahwa lolosnya tim sepakbola Banua sudah dijamin Ketua Umum PSSI Pusat Djohar Arifin karena tim sepakbola Kaltim terbukti melakukan pelanggaran. Abdul Rajak sekretaris umum PSSI Kalsel mengaku kaget mendengar kabar bahwa banding PSSI Kaltim diterima. “Saya baru datang dari Jakarta untuk mengurus berkas lolosnya tim sepakbola Kalsel. Kok tidak ada kabar bahwa banding PSSI Kaltim diterima,” ucapnya dengan nada terkejut ketika dihubungi Radar Banjarmasin tadi malam (27/1). Benjamin ketua komisi disiplin PSSI Kalsel menilai diterimanya banding PSSI Kaltim merupakan permainan tingkat tinggi. “Kan awal Januari tadi banding PSSI Kaltim ditolak. Mereka dinyatakan bersalah dan Kalsel pun akhirnya dinyatakan lolos PON. Ini sudah permainan lobi tingkat tinggi,” katanya. Namun, sambung Benjamin, hal ini sudah diprediksi sebelumnya. Sebab, keputusan PSSI pusat menyatakan Kalsel lolos PON terdapat kejanggalan. “Seharusnya yang mengeluarkan putusan Kalsel lolos PON itu adalah PSSI. Ini loh daerah-daerah yang lolos PON. Eh, kami malah disuruh ke KONI pusat untuk mendapatkan kepastian lolos PON. Tapi, karena permintaan PSSI begitu, ya kami jalani saja dulu,” ungkap Benjamin. Menangapi hal ini, rencananya PSSI Kalsel akan melakukan PK (peninjauan kembali) dalam waktu dekat. “Kami akan segera melakukan konsolidasi untuk mempersiapkan PK. Misalkan PK tetap tidak mempan, kami akan melakukan laporan lagi ke PSSI pusat mengenai domisili pemain mereka (tim sepakbola Kaltim),” sebut Benjamin. Benjamin mengungkapkan selain terkait masalah bermain di liga profesional, dua pemain Kaltim itu juga bermasalah dalam hal domisili. “Mereka kan baru satu tahun berdomisili di Kaltim. Sedangkan di aturan domisili pemain minimal dua tahun. Pokoknya peluang Kalsel untuk lolos masih ada. Sebab, laporan atau protes masih bisa dilakukan dan dievaluasi oleh PSSI pusat sebelum PON digelar,” yakinnya.(dwi/ede/arh)
|