Halaman Utama
Buku Tamu
Arsip Berita
Contact
 
 

27

Jan 2012

Menelusuri Sejarah Sekolah Rakyat di Banjarmasin

 
Radar Banjarmasin - Utama

Jepang Masuk, Sekolah Diulang Lagi dari Kelas 1
Tidak banyak yang tahu, jika sekolah modern pertama di Banjarmasin lahir seabad silam. Berawal dari penerapan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda yang mengacu pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901. Politik balas budi ini menekankan tiga hal: irigasi, transmigrasi dan pendidikan.
Syarafuddin, Banjarmasin

SEBELUMNYA, pada tahun 1892 tercetus peraturan dimana pendidikan dasar harus ada pada tiap Karesidenan, Kabupaten dan Kawedanan yang dianggap memerlukan. Residen Borneo Selatan kemudian mendirikan Voorfolkschool di Kuin Cerucuk (kini Kuin Utara) pada tahun 1912. Lebih rendah dibawahnya, ada Folkschool, hanya tiga tingkat kelas. Sebenarnya, sudah ada Europese Lagere School (ELS), tapi hanya ditujukan untuk anak-anak Belanda, bukan untuk pribumi. Lokasi ELS ini berada di Jalan Lambung Mangkurat, tepatnya di Bank Mandiri sekarang.
“Maka untuk menghindari kekecewaan dan kecemburuan dari masyarakat, residen kemudian mendirikan sekolah untuk pribumi,” jelas Haji Ahmad Husaini (81) alumni Voorfolkschool di kediamannya, Jalan HKSN Komplek Kebun Jeruk Permai RT 16, Kuin Utara, kemarin (26/1).
“Di sekolah kami ada lima guru dan satu direktur (setingkat kepala sekolah). Satu kelas paling banyak 50 orang. Semua pengajar orang pribumi. Sedangkan direktur bisa pribumi bisa juga Belanda. Yang penting fasih berbahasa Belanda,” kenangnya.
Perbulannya, Husaini mesti membayar iuran seketip (10 sen). Kala itu, seketip bisa membeli dua liter beras. ”Serimis setengah sen, sebenggol dua setengah sen, sekelip lima sen, seketip 10 sen, setali 25 sen dan sesuku 50 sen. Nah, satu rupiah 100 sen dan seringgit 250 sen,” rincinya.
     Husaini sekolah dari tahun 1938-1947, sembilan tahun! Kok, lama sekali? Kisahnya, itu karena ia sekolah di era Belanda dan Jepang. Ada perbedaan sistem pendidikan di dua era penjajahan ini. Di era Belanda, ada lima tingkatan kelas (5 tahun), sedangkan di era Jepang, ada 12 tingkatan kelas (satu kelas hanya enam bulan, total enam tahun).
     Repotnya, ketika Jepang masuk, si anak dipaksa mengulang sekolahnya dari kelas satu lagi, tidak peduli ia sudah kelas berapa. Walhasil, Husaini sedikit-sedikit paham Bahasa Belanda dan Bahasa Jepang.
Ditanya apa perbedaan rasa sekolah di dua era tersebut, Husaini menganggap Belanda lebih mau mengikuti irama masyarakat pribumi. Berbeda sekali dengan Jepang yang ketat dan tinggi disiplinnya. ”Jepang juga memberi kita banyak sekali pelatihan militer dasar,” ucap Husaini. Itulah alasan mengapa cikal-bakal TNI adalah dari PETA (Pasukan Pembela Tanah Air) bentukan Jepang.
”Tak ada istilah seragam sekolah. Ada yang pakai sandal capal, lebih banyak lagi yang tak pakai alas kaki sama sekali,” ucapnya terkekeh. Kalau soal buku dan pensil, bisa datang dari pemerintah.
Belakangan, sekolah Husaini berubah nama menjadi Sekolah Rakjat (SR) Kuin Cerucuk. Ada lima SR di Banjarmasin kala itu. Selain Kuin Cerucuk, tersebut satu di Sungai Bilu, satu di Pelabuhan Utara dan satu di Jalan S. Parman (tepat di Polda Kalsel sekarang). Sayang, Husaini tak mampu lagi mengingat satunya dimana.
”Nah, yang paling terkenal sebagai sekolah top dan terkemuka saat itu adalah sekolah di Jalan S. Parman itu,” tambahnya. Perubahan SR menuju SD (Sekolah Dasar) diadakan usai kemerdekaan, tepatnya 13 Maret 1946.
Sedangkan untuk tingkatan selanjutnya, MULO (Meer Uitgebreid Lage Onderwijs), setingkat SMP, berada tepat di Kegubernuran Kalsel sekarang. Untuk HIS (Hollands Inlandsche School), masih menurut Husaini, ada di sekitaran daerah Jalan Nagasari.
     Di Banjarmasin, tidak semua tingkatan sekolah ada, misal Kweekschool. HBS (Hogere Burgere School) yang setara dengan MULO dan AMS (Algemeene Middelbare School), setingkat SMP dan SMA, juga tak ada. “Kalau ada yang menginginkan pendidikan lebih tinggi. Ia bisa pergi ke HBS di Batavia,” kata Husaini.
     “Sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat Kalimantan Selatan, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyekolahkan guru-guru terbaik kami ke Kweekschool di Makassar,” ceritanya.  
     Ia kemudian mengabdi selama 30 tahun (1952-1982) di SR Kuin Cerucuk yang kini bernama SDN Kuin Utara 1. “Dulu, semua bangunannya dari kayu ulin. Sekarang tidak lagi. Habis sudah dirombak ulang,” katanya.
     Benar saja, keesokan hari, menurut pantauan Radar Banjarmasin, sekolah yang tepat terletak disamping Kodim 1007 Koramil 007-04 Banjarmasin utara ini bangunannya sudah seperti SD kebanyakan. Ruang kelasnya dibangun dari beton yang dicat biru muda.
Usai wawancara selama hampir dua jam, ketika ditanya siapa lagi yang bisa ditemui untuk memverifikasi informasi yang telah diberikannya, Husaini menggeleng. ”Habisan berataan sudah,” ucapnya lirih.
Diminta untuk menunjukkan dokumentasi foto saat itu, Husaini menyayangkan. ”Kamera zaman itu masih barang langka,” ujarnya. (yn/bin)

 
  • Radar Banjarmasin Epaper
 
 
 
Kaltim Post Group