 BANJARMASIN – Sejak awal ditangkap, ketujuh tersangka pemerkosaan dan pembunuhan mutilasi terhadap Fatmawati, diduga sudah berkoordinasi dan merekayasa kejadian pemerkosaan dan pembunuhan mutilasi bila ketahuan atau tertangkap polisi. Buktinya, anggota Polres Banjar dan Ditreskrim Polda Kalsel sempat kesulitan mengungkap kasus pembunuhan yang menghebohkan warga Kalimantan Selatan ini. Begitu juga ketika berhasil meringkus para tersangka. Para pelaku sempat bersikeras tidak mengakui perbuatan pemerkosaan dan pembunuhan mutilasi yang sudah direncanakan tersebut. Direktur Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Mas Guntur Laope mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi bila para tersangka berkoordinasi di dalam sel tahanan. “Kemungkinan berkoordinasi tersebut bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, kami memisah-misahkan sel tahanan mereka agar para tersangka tidak berkoordinasi atau merekayasa saat memberikan keterangan kepada penyidik,” ujarnya. Diakuinya, saat dimintai keterangan memang para tersangka ini selalu mempersulit penyidik dengan memberikan keterangan yang berbelit-belit dan berputar-putar. “Tapi tidak apa-apa, itu hak dia (tersangka, red),” tegas Guntur. Namun, lanjutnya, penyidik sudah berusaha agar para tersangka ini dengan sadar sendiri untuk mengutarakan yang sebenarnya tanpa ada desakan dari siapapun. Artinya, dari awal pemeriksaan sampai sekarang ini pihaknya tidak pernah mendesak para tersangka pada saat diperiksa. Agar mempermudah pembuatan berkas perkara para tersangka. penyidik Ditreskrim Polda Kalsel harus memisahkan berkas perkara ketujuh tersangka. “Kesaksian mereka (tersangka) pada waktu berkas perkaranya jadi satu memang sangat mempersulit kami. Oleh karena itu, berkas perkaranya dipisah-pisah agar gampang,” ujarnya. Dari informasi yang diperoleh, semenjak Fendi Ardiyanto alias Fendi alias anak sialan (22), berusaha bunuh diri, para tersangka mendapat pengawalan ketat dari petugas. Diduga ancaman hukuman mati menjadi salah satu penyebab yang membuat para tersangka pemerkosaan dan pembunuhan mutilasi menjadi stres dan tertekan mentalnya. Selain itu, peristiwa pembunuhan sadis tersebut juga menghantui perasaan para tersangka selama berada di dalam sel tahanan. “Wajar saja kalau orang yang baru pertama kali membunuh selalu diselimuti rasa takut dan perasaan bersalah,” ujar salah seorang anggota. (hni)
|