|
Pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Quran (STIQ) Amuntai, merupakan karya monumental di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Pendirian perguruan tinggi ini didasari hasil MTQ XXI Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, yang diselenggarakan tahun 2000 silam di Kota Bertakwa tersebut.
MUHAMMAD AKBAR, Amuntai
STIQ AMUNTAI adalah perguruan tinggi yang secara khusus memberikan pendidikan keilmuan Al Quran.Konon satu-satunya di Kalimantan, bahkan di Indonesia Timur. Awal sejarah berdirinya kampus penghafal Quran, bermula ide Drs H Suchalin Muchtar (waktu itu Bupati HSU), dibantu Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) HSU, ditambah dukungan dan respon dari DPRD HSU dan LPTQ Kalsel.
Tanggal 2 Oktober 2000, STIQ Amuntai ditandai pembukaannya oleh Gubernur Kalsel Sjachriel Darham, yang diketahui pula putera daerah asal Amuntai. Kuliah perdana disampaikan Prof Dr Said Agil As Segaf Almunawar MA, guru besar dari Perguruan Tinggi (Petik) Ilmu Alquran Jakarta.
Kondisi bangunan STIQ Amuntai di tahun 2009 hingga 2010, memiliki bangunan permanen untuk perkuliahan para mahasiswa, perkantoran dan sarana penunjang akademik lainnya sebagai peningkatan kualitas dan kemampuan mahasiswa. Perguruan tinggi ini mempunyai kontribusi langsung bagi Pemkab HSU, guna meningkatkan SDM di Amuntai maupun di Kalsel. STIQ Amuntai memiliki Program Studi Strata Satu (S1) Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab dan S1 Tarbiyah Jurusan PGSD, yang keduanya bercirikan khas Alquran.
Kemudian, tokoh sangat berperan dalam kemajuan dunia pendidikan di Kabupaten HSU, ialah Drs H Hasib Salim MAP yang juga Pembantu Ketua Satu (Puket 1). Ditemui Radar Banjarmasin di kediamannya, Rabu (9/11) tadi, Ia mengatakan, kemajuan STIQ Amuntai patut dibanggakan, karena aset berharga dimiliki Kabupaten HSU.
“Seorang mahasiswa STIQ Amuntai, harus bisa menjadi suri tauladan dan contoh kepada masyarakat luas. Sebagian kecil alumni kita, malah ada yang melanjutkan pendidikan luar negeri sekelas Al Azhar di Kairo,” ungkapnya.
Sembari menjelaskan mengenai pemahaman Alquran, dikembangkanlah ilmu qirad dan seni dalam membaca Alquran melalui pengkajian dan penelitian ilmiah, memberikan pelayanan terhadap penggalian ilmu pengetahuan pada umumnya lebih khusus ilmu tentang ajaran Islam.
“Secara fisik kampus STIQ Amuntai sebagai lembaga pendidikan yang memiliki legalitas dan bernuansakan Islam, dengan ciri khas Qurani menampilkan citra berwibawa ,sejuk, rapi nan indah, kampus Islami STIQ Amuntai harus menjadi panutan bagi masyarakat, mahasiswa dan alumni, terpercaya, menumbuhkan keteladanan di masyarakat,” katanya.
Jumlah mahasiswa menamatkan Alquran secara lengkap selama berdirinya STIQ tahun 2000 silam, mencapai 86 orang terdiri 40 mahasiswa dan 46 mahasiswi. Wisuda tahun ini, 6 wisudawan dan 5 wisudawati sekaligus berhasil menghafalkan Alquran. “Kuncinya mahasiswa yang belajar di kampus ini, semester II diwajibkan menghafal sebanyak 10 juz, semester IV diwajibkan 15 juz, sedang semester VI menjelang akhir di wajibkan 20 sampai 30 juz,” terang Hasib.
Bagimana prestasinya? Banyak prestasi ditorehkan STIQ Amuntai, baik lokal dan nasional, karena visi dan misi menjadikan perguruan tinggi Islam dalam melakukan pengembangan ilmu,tahfidz dan pemahaman Alquran sebagai tujuan utama ajaran Islam. “Misi STIQ utama yakni mengantarkan mahasiswa memiliki kemantapan aqidah dan kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional, memberikan pelayanan tahfidz baik pribadi maupun di lingkungan bermasyarakat,” bebernya.
Hasib berpesan kepada para alumni dan mahasiswa STIQ Amuntai yang aktif, hendaknya bersungguh-sungguh mengikuti bidang pendidikan dan bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari. “Yang paling penting menjaga almamater STIQ Amuntai penuh tanggung jawab. Keberhasilan yang ditorehkan STIQ Amuntai, pastinya tidak lepas dari bantuan Allah Subhana waa taala, penuh limpahan rahmat dan hidayah kepada seluruh civitas akademika STIQ Amuntai,” pesannya. ***
|