|
(Wajah pualam belajar mengeja langit Berharap esok penuh warna-warni Tapi, cuaca senantiasa sukar diterka Sejenak terang, sesaat kemudian berubah kelam Seperti bayang-bayang, nasib tak terpegang…) Mak Rukayah dan Masni pulang dengan langkah gontai. Raut wajah keduanya tampak kusut. Bias kecewa kentara terpancar di bola mata ibu dan anak itu. Panjol yang sedari tadi asyik bermain tanah, tertegun memandang dengan tatapan polos. “Sabar ya, Nak. Mungkin sudah suratan nasib kita begini,” kata Mak sambil membelai rambut Masni. Sebetulnya Mak ingin lebih lama lagi menemani dan menghibur, tapi ia mesti bergegas ke tempat majikannya, sebab setumpuk pakaian telah menunggu untuk dicuci. Jika tidak, ia pasti diomeli seperti kejadian seminggu lalu. Perlahan Masni beranjak ke kamarnya. Lalu, duduk di atas tilam yang lusuh. Bersandar di dinding yang sudah banyak berlobang. Sejurus kemudian, butir airmata yang semenjak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. (Sia-sia telaga itu merindu pelangi Tak ada tangan-tangan lembut yang sedia berbagi Tak ada selendang bidadari yang terjuntai Semua cuma dongengan bertabur mimpi Kala terjaga, segera disergap sangsai) Kini, pupus sudah harapannya untuk melanjutkan sekolah. Meski lulus tes di SMU Merdeka, tapi ia diwajibkan membayar Rp 900 ribu untuk biaya daftar ulang. Di mana Masni bisa mendapatkan uang sebesar itu? Penghasilan Mak sebagai pembantu rumahtangga cuma cukup buat menutupi kebutuhan makan sehari-hari. Sementara bapak Masni telah lama meninggal, akibat terkena penyakit tipus. Masni termenung sendiri. Terbayang kembali ucapan Kepsek beberapa waktu lalu, “Ini sudah kesepakatan bersama dan disetujui oleh Komite Sekolah. Kalau tidak bisa memenuhi, terpaksa nama kamu dicoret!” Kalimat itu diucapkan dengan nada dingin. Sedikit pun tak ada tanda-tanda bersimpati pada orang miskin. Semula Masni mengira dengan adanya program BOS, ia akan dapat mengecap pendidikan gratis. Tapi, faktanya pihak sekolah tetap menerapkan berbagai pungutan yang terkesan seolah dibuat-buat. Jadi, memang benar ungkapan bahwa di negeri ini orang miskin dilarang sekolah. Iseng Masni membuka map di tangan yang kian lusuh. Dengan tatapan nanar dia pandangi ijazah SMP-nya. Semua nilai mata pelajarannya di atas tujuh. Bahkan, Masni memperoleh rangking tertinggi. Tapi prestasi itu sekarang tak ada gunanya, rontok terbentur oleh ketiadaan biaya. (Tanpa peta, ke mana mesti melangkah? Semula ia sempat bersandar pada kerlip bintang Menjura asa, menabik petunjuk Tapi, kaki ringkih begitu mudah terantuk Ditusuk pedas batu cadas nan beringas) Mendedah nasib dirinya, Masni jadi ingat sebuah buku yang pernah ia pinjam di perpustakaan. Di situ diceritakan bagaimana Al Ghazali, anak seorang penenun wol yang miskin, dengan leluasa bisa menuntut ilmu karena semua fasilitas telah ditanggung oleh khalifah (pemerintah). Terbukti, akhirnya dia menjadi cendekiawan muslim terkenal. Seharusnya Indonesia kalau ingin masa depan negara cemerlang, mau belajar dari sejarah tersebut. “Huh… kenapa aku berpikir ngelantur sejauh itu,” gumam Masni saat tersadar dari lamunan. Cepat-cepat Masni menyusut buliran airmata yang menggenang di pipi, begitu mengetahui Panjol tengah memperhatikan dirinya. Entah, berapa lama sudah lelaki itu berdiri di balik tirai, Masni saja yang kurang menyadari keberadaan dia lantaran kelewat terhanyut dengan pikiran sendiri. “Akkggh… awuwu… aouu…” Panjol dengan bahasa yang sulit dimengerti coba bertanya. Dari gerak mata dan ekspresi wajahnya, Marni bisa menerka kalau si Abang ingin tahu problem yang tengah menimpanya. “Tidak apa-apa, Masni cuma kurang enak badan kok,” dalihnya. “Sana deh main lagi!” Mungkin karena merasa tidak diperlukan, walau tampaknya masih penasaran, tak lama berselang Panjol pun berlalu. (Biarlah lara memagut erat Berlumut di palung paling rahasia Bagi jiwa yang terbiasa didera nestapa Tak apa menabung bergalon-galon keluh) Sungguh, bukan maksud Masni enggan berbagi duka pada abangnya itu, namun ia tahu pasti bagaimana kondisi Panjol. Tubuhnya saja yang gede, tapi cara berpikir dia lebih payah daripada kanak-kanak. Panjol memang tidak normal. Sejak kecil dia mengidap autis. Pasti bukan hal mudah dan perlu kesabaran ekstra untuk mengasuhnya. Menyadari betapa besar pengorbanan Mak untuk menghidupi mereka berdua, Masni berjanji tidak akan menambah beban perempuan tua itu. Ia tidak akan ngotot minta disediakan dana sebagaimana disyaratkan pihak sekolah. “Semua ini mudah-mudahan ada hikmahnya. Minimal, dengan tidak melanjutkan sekolah aku bisa berkonsentrasi membantu Mak mencari nafkah,” tekad Masni dalam hati, sembari mencoba berdamai dengan kenyataan. ***
Usai shalat Isya, Mak Rukayah dan Masni tidak langsung mencopot mukena. Keduanya melanjutkan dengan tadarus Alquran. Sedangkan Panjol semenjak Maghrib tadi batang hidungnya tiada kelihatan, entah ke mana. Di tengah kekhusyukan melantunkan Kalam Ilahi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi tiang listrik dipukul bertalu-talu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar orang-orang berteriak, “Kebakaran… Ada kebakaran!” Mak dan Masni spontan berhenti mengaji. Bergegas keluar rumah. Dan langsung disuguhi pemandangan langit yang memerah. Menyaksikan kobaran api membumbung tinggi, meski agak jauh dari tempat tinggalnya, Masni ikut tegang. Berdiri mematung sambil memegang erat tangan Mak. Ketika seorang warga memberitahu bahwa SMU Merdeka yang terbakar, tanpa dikomando Masni cepat berlari menuju lokasi kejadian. Panggilan Mak tak dia pedulikan. Setiba di sana, api tengah garang-garangnya melahap sekolah itu. Apesnya lagi, mobil pemadam kebakaran terlambat datang. Satu demi satu ruang kelas dijilati api. Hanya dalam hitungan menit bangunan itu berubah jadi arang. Di tengah kepanikan dan kesibukan warga yang berusaha memadamkan api, sepintas Masni masih bisa mengenali sosok Panjol yang berdiri di ujung jalan. Ia segera menghampiri abangnya itu. Tapi, yang membuat Masni heran, kenapa justru Panjol berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil bertepuk tangan saat menyaksikan kobaran api? “Hei, kenapa kamu malah gembira melihat sekolah itu terbakar?!” sergah Masni. “Gerrz, auww ouuu… hegh!” ucap Panjol sambil menunjuk dada Masni, lalu beralih menudingkan telunjuknya ke arah sekolah yang sebentar lagi mungkin tinggal puing-puing. Masni tertegun. Wajahnya pucat. Ia seperti melihat pijar-pijar dendam terpancar dari sorot mata Panjol. Tapi, sesaat kemudian amarah itu berganti dengan senyum penuh kemenangan. Sangat sulit bagi Masni untuk menebak perangai Panjol. Begitu api mulai berhasil dijinakkan, Masni pun berniat mengajak Panjol meninggalkan lokasi tersebut. Saat ia menarik Panjol, terasa agak licin. Setelah mencium bau minyak tanah yang menempel di tangan lelaki itu, betapa kagetnya Masni. Kini, tahulah ia siapa pelaku yang sengaja membakar sekolah itu! []
|